Budi Utomo : Tokoh Pendiri, Latar Belakang, dan Tujuan

Budi Utomo – Hai sobat pintar, masih semangat belajar kan kalian. Kali ini kita ke pokok pembahasan sejarah yang penting untuk kita ketahui karena tanpa adanya sejarah tentu kita tidak

akan bisa sampai ke titik ini. Dahulu para pemuda selain aktif ikut berjuang di medan pertempuran, mereka juga aktif memperjuangkan kemerdekaan dengan membentuk organisasi – organisasi

remaja untuk menumbuhkan semangat kemerdekaan. Salah satunya Budi Oetomo ini, yang saat ini menjadi nama salah satu sekolahan yang ada di Jakarta yang dikenal Boedoet. apasih organisasi ini?

Untuk keterangan lebih lengkapnya kalian bisa langsung membaca penjelasan di artikel dibawah ini. Terimakasih banyak bagi kalian yang sudah meluangkan waktu.

budi utomo

Pembahasan Komplet Mengenai Boedi Uetomo

Arti / Pemahaman

Boedi Oetomo ialah organisasi pemuda yang dibangun oleh Soetomo dan beberapa mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), yakni Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji di tanggal 20 Mei 1908.

Organisasi ini digagas oleh Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini memiliki sifat sosial, ekonomi, dan budaya yang tidak memiliki sifat politik. Berdirinya Budi Utomo jadi awalnya gerakan yang

mempunyai tujuan untuk capai kemerdekaan Indonesia, meskipun sebelumnya organisasi ini cuma diperuntukkan untuk kelompok berpendidikan Jawa. Sekarang ini tanggal berdirinya Budi Utomo diperingati

sebagai Hari Kebangunan Nasional. Nama Budi Utomo diprediksi diadaptasi dari kata bodhi yang bermakna transparansi jiwa, pemikiran, akal, atau pengadilan dengan pengharapan seperti itu.

siapa pendiri budi utomo

Riwayat Singkat

Di tahun 1907, Wahidin Sudirohusodo lakukan lawatan ke STOVIA dan berjumpa dengan beberapa mahasiswa yang bersekolah di sana. Lalu, dia mengatakan ide dari mereka untuk membuat organisasi yang bisa mengusung derajat bangsa.

Disamping itu, Sudirohusodo ingin membangun sebuah organisasi di bagian pengajaran yang dapat menolong ongkos beberapa orang pribumi yang berprestasi dan memiliki kemauan untuk bersekolah, tapi terhalang ongkos.

Ide ini menarik untuk beberapa mahasiswa di situ, khususnya Soetomo, Gunawan Mangunkusumo, dan Soeradji Tirtonegoro.Selanjutnya, Soetomo bersama dengan M. Soeradji melangsungkan tatap muka dengan mahasiswa STOVIA lainnya untuk mengulas ide organisasi yang dikatakan oleh Sudirohusodo.

Acara itu berjalan tidak sah di Ruangan Anatomi punya STOVIA saat tidak ada jam pelajaran. Tatap muka itu membuat sebuah organisasi yang dinamakan “Perkumpulan Budi Utomo” hingga Budi Utomo juga berdiri di tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta.

Budi Utomo juga jadi awalnya sebuah zaman nasionalisme indonesia yang dikenali bernama gerakan nasional. Beberapa tokoh yang terdaftar sebagai pendiri Budi Utomo terbagi dalam 9 orang, yakni Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka Prodjosoedirdjo, Mochammad Saleh, Raden Mas Goembrek dan M. Soewarno.

Saat dibangun di STOVIA, organisasi itu sudah mempunyai struktur pengurus organisasi yang tercatat dalam bujet dasar dan bujet rumah tangga organisasi itu.

Pada periode itu, Soetomo jadi Ketua dengan wakilnya, yakni Soelaiman. Pengurus yang lain terbagi dalam Gondo Soewarno sebagai sekretaris I dan Goenawan sebagai sekretaris II dan bendahara yang dijabat oleh Angka. Tersisa pendiri yang lain memegang sebagai komisaris.

Bersamaan perubahan waktu, Budi Utomo terus menambahkan anggota dan beberapa tokoh penting gerakan Indonesia mulai tergabung, seperti Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesomo, Tirto Adhi Soerjo, Pangeran Ario Noto Dirodjo dan Raden Adipati Tirtokoesoemo.

Informasi berdirinya perkumpulan ini menyebar di media massa dan memunculkan pergerakan untuk membangun cabang di beberapa kota. Beberapa kantor cabang juga dibangun di kota Magelang, Probolinggo dan Yogyakarta.

Tetapi, peristiwa ini memberikan ancaman status beberapa pendiri perkumpulan itu, khususnya Soetomo karena Soetomo dipandang seperti pimpinan barisan perlawanan pada Hindia Belanda bersama dengan rekan-rekan pelajarnya.

Atas dasar ini, Soetomo terancam dikeluarkan dari STOVIA. Sebagai wujud kebersamaan, beberapa temannya turut janji untuk keluar sekolah itu, bila Soetomo dikeluarkan.

Tetapi, Soetomo tidak jadi dikeluarkan karena memperoleh pembelaan dari Hermanus Frederik Roll yang sampaikan pembelaan jika usia Soetomo yang muda jadi argumen karakter berapi-apinya

sama dengan orang yang mendakwa Soetomo saat mereka saat muda. Di bulan Juli 1908, Budi Utomo sudah capai anggota yang sejumlah 650 orang yang terbagi dalam priayi berpangkat siswa dan rendah.

Penerapan Konferensi Pertama

Gagasan penerapan konferensi melalui bermacam penyiapan. Untuk mengongkosi penyelenggaraan konferensi, beberapa anggota memakai uang sokongan hari raya dari STOVIA dan jual beberapa barang kepemilikian setiap anggota, seperti arloji, kain panjang dan kain pengikat kepala. Selainnya dana itu, Soetomo memperoleh kontribusi utang uang dari Roll.

Setiap anggota juga diperintah untuk mengontak beberapa figur dengan surat lawatan atau undangan. Saleh berkunjung beberapa saudari dari Raden Ajeng Kartini di Jepara, Gunawan berkunjung Raden Adipati Tirtokoesoemo yang waktu itu memegang Bupati Karanganyar, dan Soetomo berkunjung Ernest Douwes Dekker di Jakarta.

Beberapa tokoh yang lain ikut dikontak seperti Koesoemo Oetoyo sebagai Bupati Jepara, Achmad Djajadiningrat sebagai Bupati Serang, Pangeran Ario Kusumo Yudo di Jatinegara, Raden Mas Sutomo yang bersekolah di Sekolah Pamong Praja di Magelang dan Raden Mas Adipati Tjokro Adikoesoemo yang memegang sebagai Bupati Temanggung.

Di tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo mengadakan konferensinya yang pertama di kota Yogyakarta.[10] Salah satunya jadwal yang diulas sebagai saran dari Sudirohusodo untuk membangun Tubuh Kontribusi Pengajaran atau studiefonds, tetapi saran itu ditampik dengan 3 point penampikan:[11]

1. Kebatasan pergerakan Tubuh Kontribusi Siswa
2. Kesusahan saat penerapan
3. Kegiatan menolong siswa sebagai beberapa program tugas Budi Utomo

Walau beberapa siswa STOVIA sebagai pendiri awalnya dari Budi Utomo, mereka memberikan kepimpinan ke beberapa orang yang lebih tua dan eksper sebagai wujud penghormatan dan untuk menuntaskan beban study di STOVIA, khususnya Sutomo yang harus jalani pengajaran sepanjang tiga tahun.[12] Pada akhirnya, konferensi itu menunjuk Tirtokoesoemo sebagai ketua umum dan Wahidin Sudirohusodo sebagai wakil ketua.

Konferensi itu mencetuskan arah Budi Utomo, yakni jamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat dan arah organisasi sebagai organisasi yang fokus pada pengajaran, kebudayaan, dan edukasi.

Beberapa siswa STOVIA dipilih sebagai pengurus cabang Betawi dan kantor pusat diputuskan ada di Yogyakarta.[6] Sampai diselenggarakannya konferensi yang pertama ini, Budi Utomo sudah mempunyai tujuh cabang di sejumlah kota, yaitu Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo Sampai tahun 1909, anggota Budi Utomo capai 10.000 anggota.

Perubahan

Pada waktu itu, Ernest Douwes Dekker sebagai seorang Indo-Belanda yang paling perjuangkan bangsa Indonesia, dengan terang-terangan merealisasikan kata politik ke perlakuan yang nyata. Karena dampaknya, pemahaman berkenaan “tanah air Indonesia” lama-lama semakin dapat diterima dan masuk ke pengetahuan orang Jawa.

Karena itu nampaklah Indische Partij yang telah lama disiapkan oleh Douwes Dekker lewat tindakan persnya. Perkumpulan ini memiliki sifat politik dan terbuka untuk semuanya orang Indonesia tanpa terkecuali. Untuknya “tanah air api udara” (Indonesia) ialah di atas segala-galanya.

Amarah itu menggerakkan Soewardi Suryaningrat (yang selanjutnya namanya Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel “Als ik Nederlander was” (Andaikan Saya Seorang Belanda), yang ditujukan sebagai satu kritikan yang paling pedas pada faksi Belanda.

Tulisan itu juga yang menceploskan dianya bersama dua rekan dan pembelanya, yakni Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintahan Hindia Belanda (saksikan: Boemi Poetera). Tetapi, semenjak itu Budi Utomo tampil jadi motor politik dalam gerakan beberapa orang pribumi.

Berlainan dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih memprioritaskan kebudayaan dari pengajaran, Soewardi mengatakan jika Budi Utomo ialah realisasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, beberapa orang Indonesia mengajari ke bangsanya jika “nasionalisme Indonesia” tidak memiliki sifat kultural, tapi murni memiliki sifat politik.

Dengan begitu, nasionalisme ada ke orang Sumatra, Jawa, Sulawesi atau Maluku. Opini itu berlawanan dengan beberapa opini yang menjelaskan jika Budi Utomo cuma mengenali nasionalisme Jawa, untuk alat mempersatukan orang Jawa dengan menampik suku bangsa lain. Demikian juga Sarekat Islam pun tidak mengenali pemahaman nasionalisme,

tapi cuma mempersyaratkan agama Islam supaya seorang menjadi anggota. Tetapi, Soewardi masih tetap menjelaskan jika pada hakekatnya akan selekasnya terlihat jika dalam perhimpunan Budi Utomo atau Sarekat Islam, nasionalisme Indonesia ada dan sebagai elemen yang paling penting.

Nah itulah tadi ulasan mengenai Budi Utomo semoga informasi yang kami sajikan ini bisa bermanfaat untuk kalian semua. Salam sukses selalu untuk kalian adik – adik semua.